Ratih, Semoga Kau Bahagia....

Oleh. Ases ID Bakrie


"Sudahlah....

Mungkin cinta hanya bisa menyenangkan kita berdua saja, keluargaku tak

akan sampai merasakannya" wajah Ratih tertunduk menyembunyikan tangis, walau isaknya masih terdengar jelas oleh Yusuf.

"Jangan bilang begitu dik, mereka akan bahagia pula bila melihat kita bahagia."Yusuf terus lekat menatap Ratih yg makin menunduk.

"Apakah abang bisa menjamin...??" suaranya sedikit meninggi "kakakku dan adik-adikku belum bisa mencukupi kehidupannya,

walau dua kakaku sudah menikah,

tapi mereka masih saja menjadi beban Ayah dan Ibuku yang hanya buruh tani Bang, yg hanya bisa mendapatkan makan utk hari ini saja,

entah esok atau lusa qta makan apalagi...."

tangisnya pun semakin menjadi. "Apalagi dengan suaminya Kak Lasmi sudah hampir 5 bulan

belum ada kabarnya, entah dimana dia ?" padahal kandungannya sudah mulai menua"

"Iya, abang ga akan pernah bisa menjamin itu, adik sendiri tau abang hanya sebagai buruh sawah, sama seperti Ayahmu tapi

abang punya niat untuk menikahi adik dan membahagiakannya, sekarang tabungan abang sudah cukup untuk upacara pernikahan

walau hanya sederhana saja, dan nanti abang akan memulai usaha baru sebagai distributor pupuk dari teman abang yang ada dikota,

dan semoga saja bisa membantu keluarga adik nantinya, yang penting dalam hidup itu ada harafan utk menjadi lebih baik"

Yusuf coba menghibur Ratih.

"Nanti ?!...harafan...?! bukan itu yg kami butuhkan hari ini, bisa makan atau tidak... Ingat bang, qta delapan bersaudara,

Ayah dan ibuku sudah mulai sakit-sakitan,

Kaka dan adik2ku belum ada yg bisa diandalkan dan dua adikku yg paling kecil minggu kemarin divonis kurang gizi oleh mantri puskesmas"

Ratih menaikkan kepalanya dan menatap kecemasan diatas padi yang sudah tampak menguning.

"Ya, Abang ingat itu, dan kenapa itu Abang meminta adik untuk menikah, supaya beban Ayah & Ibumu sedikit menjadi ringan"

"Abang mungkin bisa bilang begitu sekarang, tapi nanti...abang akan merasakan yg aku rasakan sekarang dan mungkin saja abang menyesali pernikahan itu"

Ratih membuka rantang yg baru saja ia lupakan.

"Astagfirullah....Ratih, kenapa berfikir seperti itu, apakah adik meragukan apa yg abang katakan...abang perbuat selama ini, adakah janji abang yang pernah dikhianati,

berfikirlah sederhana, jgn mendahului Allah...terlalu jauh yang kau cemaskan dik"

Air muka Yusuf tampak bersedih, membelakangi Ratih...memandang kerbau yang sedang berkubang diwaktu jedanya.

"Bang....!" Ratih memanggil lirih

"Iya dik, Yusuf menoleh dan kembali pandangannya pada punggung kerbau itu yg telah setia menemani hari-harinya.

"Masih ingat dengan Pa Hasan...?

"Iya...masih, Juragan tanah dari kampung sebelah....yg pernah diceritakan Adik bulan lalu itu kan ?! Yusuf balik bertanya.

"Betul bang, tiga hari yang lalu dia datang lagi meminta pada ayah dan ibuku supaya aku mau menikah dengannya" Ratih menuang air teh dari poci kecil yg ia bawa.

"Terus apa kata Ayah dan Ibu ?" Yusuf menatap mata Ratih seolah meragukan kesetiaan janjinya,

yang sudah mereka ikrarkan pada malam purnama dua tahun yang lalu di acara syukuran panen desa .

"Ayah Ibuku menyerahkan semuanya kepadaku"

"Abang kagum pada kedua orangtuamu dik...walau dalam serba kekurangan beliau tidak silau dengan dunia...tidak mudah tergiur dengan harta, beliau sungguh bijak,

lalu apa yang adik bilang pada Pa Hasan itu...?

"Aku minta dia menunggu seminggu lagi untuk mendengar keputusanku" nada datar terucap dari bibir tipis Ratih

"Menunggu....apa maksudmu ?

"Biar aku bisa berfikir dewasa...dan sebijak kedua orang tuaku, bukan dengan emosi saat itu.

"Aku sering melihat banyak kesedihan diwajah kakak dan adik-adiku ketika pagi itu tiba,

disaat seharusnya qta berkumpul dan sarapan bersama lalu pergi sekolah seperti para tetangga,

qta hanya bisa menyebar mencari sesuatu yg bisa ditukar nanti untuk menjadi makan siang"

Aku sering iba ketika petang itu tiba karena semua adiku segera disuruh cepat tidur oleh Ibuku supaya lapar bisa tertahan sampai esok,

Aku sering menangis ketika Ayah dan Ibuku sakit dan aku seharusnya mengantarkan mereka ke dokter, tapi nyatanya aku tak bisa berbuat apa-apa"

Ratih kembali menangis sejadi-jadinya.

"Jangan kau teruskan dik, aku mengerti dan ikut merasakannya...dan kenapa itu abang selalu mengajakmu menikah dik"

Yusuf memeluk tubuh Ratih sambil menciumi rambut dikepalanya seolah ingin meyakinkan kesungguhan hatinya.

"Sudah sembilan belas tahun usiaku bang, tapi belum bisa melihat ayah dan ibuku bahagia" Ratih membalas pelukan Yusuf dan terus menyusup didada seperti ingin masuk

menyelami hati Yusuf.

"Percayalah dik, kau dan keluargamu akan bahagia setelah menikah denganku, Abang benar-benar mencintaimu."

"Tidak, Cinta tidak akan pernah berbagi tentang kesusahan dan kepedihan, Aku tidak ingin melibatkan cintamu pada keluargaku yg seperti ini, bukankah qta sama sama ingin

merasa bahagia, Aku ingin melihatmu bahagia bang...tapi tidak denganku"

"Abang semakin tidak mengerti dengan apa yang kau katakan dik, kita makan dulu saja biar fikiranmu menjadi cerah ya..!" Yusuf berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Demi ayahku, demi ibuku, demi keluargaku dan demi Abang....Aku akan menerima pinangannya Pa Hasan... Bang"

Yusuf menarik nafas dalam-dalam, laksana mimpi buruk yang barusan terdengar "Baiknya kau fikirkan lagi dik ! apakah kamu mencintainya ? apakah kamu yakin bahagia dengannya ?

Apakah keluargamu akan menjadi lebih baik dengan keputusanmu ini ?

"Keputusanku telah aku fikirkan berulang kali dan aku semakin yakin...

memang aku tidak mencintainya dan aku tak peduli lagi dengan rasa itu karena dengan rasa itu aku hanya senang sendiri ketika bersamamu bang,

Mulai hari ini biarlah cerita qta dalam kenangan" Ratih pun berdiri dengan isak tangis mulai melangkah gontai.

"Dik Ratih...jangan kau sakiti perasaanmu dengan keputusanmu ini jgn korban kan hatimu padanya...kau pantas bahagia hanya denganku" Yusuf menarik tangan Ratih yang mulai beranjak pergi.

"Keyakinanku sudah bulat bang, hanya dengan seperti ini aku berbakti...ini bukan pengorbanan tapi pengabdian seorang anak pada orang tuanya" Ratih terus melangkah pergi dan semakin jauh.

"Ratiiiih......" teriakan Yusuf tak bisa menahannya lagi

Empat bulan kemudian, Ratih dan Yusuf tak lagi pernah bertemu,

kabar mulai tersiar, berita sudah beredar... Pa Hasan juragan tanah itu akan menikahi Ratih anaknya Pa Marta minggu depan..... hingga sampai ke telinga Yusuf.

Yusuf hanya termenung lesu ketika mendengar itu dari tetangga samping rumahnya,

"Puncak rindu itu,

Ketika qta tak lagi bertegur sapa,

Ketika qta tak lagi bertelpon,

Ketika qta tak lagi berSMS,

Tetapi qta terus saling mendo'akan,

Semoga kau benar-benar bahagia dik...!"

Sambil mengemasi pakaian yg hendak dibawa ke kota besok subuh, Yusuf bergumam :

"Maavkan abang... tidak bisa menghadiri upacara pernikahanmu dik,

Biar kenangan yg lalu tak ikut bersanding merubah keyakinanmu,

Hatiku tak sekuat batu disungai itu,

Yang telah setia menahan qta dua tahun lamannya,

Sikapku tak semudah burung pipit itu,

Hinggap dan terus hinggap dipadi yang lainnya ketika qta mengusirnya,

Perasaan ini tak merasakan biasa ketika kehilanganmu,

Karena Cinta yg tak biasa tak akan pernah hilang begitu saja,

Segitiga di Pemecutan

Oleh. Ases ID Bakrie

Terik matahari di langit kuta yang menyayat kulit siang itu tak membuatku membatalkan sebuah pertemuan yang telah kujanjikan dengannya. Jam 12.46 terlihat tak sengaja ketika kumelirik satu sisi dinding tempat tidurku, “ Empat belas menit lagi waktu itu akan tiba” gumamku sambil kuraih jaket kulit coklat lusuhku. Kuhampiri garasi disamping rumah dan kutunggangi sepeda motor F1ZR inventaris kantor itu.

Aku pun bergegas memacu karena tak ingin dia menunggu lebih lama dengan kegundahan hati yang semakin menumpuk menjadi kegelisahan yang tak menentu. Dia sebutlah Leni, wanita yang ahir-ahir ini telah menjadi bagian hidupku semenjak aku tinggal di Pulau ini. Ruas-ruas jalan raya di Denpasar waktu itu sangatlah lenggang karena bertepatan dengan hari minggu yang sebagian kendaraan memang terkonsentrasi ke arah kuta, sanur, ubud dan zona wisata lainnya yang ada di bali. Tepat dipasar badung kuberhenti sebentar untuk membeli sebungkus nasi jenggo agar perutku yang belum sempat terisi dari tadi pagi tidak memalukan saat nanti disana. Setelah perutku cukup terisi kulanjutkan perjalananku dan tidak terasa tempat dia yang kutuju sudah semakin mendekat dan aku pun melambatkan sepeda motorku untuk segera menepi lalu masuk ke sebuah gang kecil di pemecutan. Rumah no 14B sudah terlihat didepan mata, tak menunggu lama langsung aku masukan sepeda motor ini ke halaman rumahnya yang kebetulan pintu pagarnya dibiarkan terbuka oleh pemilik rumah.

Senyum manis tersungging dari bibirnya yg tipis, begitulah cara dia menyambutku di teras rumahnya sambil beranjak berdiri menghampiriku. Reflek aku menyapanya dengan salam,

“Assalamualaikkum Len ?”

“Wa’alaikkum salam” Jawab Leni tak lupa senyumnya kembali terlintas.

“Apa kabar Len ? dengan sedikit berbasa-basi kubertanya sambil kubalas senyumannya tak lupa tangan kuulurkan untuk berjabat dengannya.

“Alhamdulillah not bad lah, kaka sendiri gmn kabarnya ? sambil mempersilahkan duduk di kursi rotan terasnya yang warnanya sudah memudar tekena sengatan matahari dan tampias air hujan.

Kutatap wajahnya yang manis itu, walau baru minggu kemarin aku terakhir ketemu denganya, tapi tak pernah bosan rasanya menatap bola matanya yang terlihat ceria yang selalu membuat rasa rindu ini tak tertahankan. Wajah dia memerah saat dia sadar ku lekat memandangnya dan spontan dia memalingkan wajahnya sambil melangkah pergi kedalam, dan mata ini pun masih enggan lepas dari sosoknya walau hanya rambut hitam sebahu sedikit ikal dan belakang tubuhnya yg bisa dilihat akupun sedikit bergumam “sempurna……….” Sampai tak terlihat karena terhalang partisi ruang didalamnya dan barulah pandanganku teralihkan pada bocah kecil yang sedang asyik main kelereng dihalaman rumah.

“BRAAAAAK…………..!!”

Tiba-tiba ada suara keras terdengar seperti benda jatuh ke lantai,

“Aaaawwww…………..!!”

Jeritan pun terdengar menyusul,

Aku pun terkaget ketika ada suara keras dari dalam rumah dan langsung kuberdiri dari tempat duduk dan berlari ke dalam rumah,

………bersambung

Lalim yang berkelit

Oleh. Ases ID Bakrie

Kabar banyak terdengar,

Berita sibuk tersiar,

Ribuan buruh migrant dikemas dengan peti mati,

Kabar banyak terdengar,

Berita sibuk tersiar,

Hanya satu, dua atau tiga saja yang dapat simpati retorika,

Ketika tayangan siksa keji pada buruh migrant muncul di TV,

Kabar banyak terdengar,

Berita sibuk tersiar,

Kekerasan sexual & fisik mesti berahir dengan jasad di tong sampah,

Kabar banyak terdengar,

Berita sibuk tersiar,

Para pejabat riuh berkelit,

Para penjilat mencuci tangan,

Mereka tak peduli lagi harga diri apalagi martabat bangsa,

Mereka hanya peduli bagaimana berpaling meyelamatkan diri,

Aku benci para lalim berdalih di televisi mlm ini……………..

Pesan singkat untuk istriku, nanti...

Oleh. Ases ID Bakrie

Assalamuallaikkum,

Istriku yg selalu kucintai,
di meja kerjanya siang ini,

Setiap kumelihat kau tertidur, tampak terlihat kau pulas kepayahan.
Siang dan malam tak ada bedanya bagimu, tak hentinya kau menari dengan pekerjaan di kantor dan dirumah,
Tak hentinya kau menyanyi mengingatkan setiap keteledoran itu selalu terulang.

Setiap kumelihat kau tertidur, kumerasa iba dengan ketulusanmu.
Kau rela tertidur sebentar saja, demi suamimu ini yg tak pernah tau seberat apa kau bekerja dikantormu.
Mungkin sama seperti ditempatku bahkan mungkin lebih berat.
Namun kau masih bisa memperlakukanku dalam kewajaran.

Setiap kumelihat kau tertidur, kumerasa pria yang sangat lemah,
Karena seolah tak bisa membuatmu menikmati hidup yg sebenarnya.
Menit-menitmu seperti rantai yg saling terkait macam kepentingan.

Setiap kumelihat kau tertidur, Aku ingin menjadi pria yang kuat,
ingin kuberkata "Tinggalkanlah pekerjaan kantormu...!!
Biarkanlah suamimu ini meretas semua beban yg seharusnya terpikul,
Karena ini memang kodratku....kodratku sebagai suami,"

Setiap kumelihat kau tertidur, ingin rasanya kumerasakan kehangatanmu,
Mengantarkanku diujung rumah ketika kupergi,
Menyambutku didepan pintu ketika aku datang,
Menemani ku menghabiskan segelas susu dimeja makan sebagai penutup sarapan,
Menemani ku makan malam sambil mendengarkanku cerita tadi siang,
Tak membisu lagi ketika kita berdua ditempat tidur,
Tidak seperti sekarang....sebuah keluarga yg hanya namanya saja.

Istriku yg selalu kucintai,
Izinkanlah suamimu ini untuk meminta,
Lepaskanlah pekerjaanmu sekarang juga,
Jadikanlah aku pria terhormat yang menghormatimu sebagai perempuan dan sebagai ibu nantinya,
Biarkanlah Aku menafkahi semua keperluan qta sendiri tanpa kau harus bersusah payah,
Dengan keyakinanku, dengan kekuatanku sebagai pria,
Katakanlah dan pintalah setiap keinginanmu hanya kepadaku saja, suamimu...!
Pecayalah Aku bisa meluluskan segala permintaanmu.

Wassalam


Suami Yang mencintaimu

Sesal Faizal

Oleh. Ases Id Bakrie

"Kau yang telah bahagia bersamanya, maafkanlah aku yg belum bisa melupakanmu"

Faizal menulis sebaris kalimat dibalik photo close up seorang wanita berukuran 2R dalam frame metal berwarna silver,

photo seorang gadis manis berambut ikal panjang yang selalu tersenyum seolah mentertawakan atas setiap penyesalan yang dialami Faizal ahir-ahir ini.

Candra Septiany, nama gadis yg ada diphoto itu masih selalu dipuja nya sampai kini. Dialah wanita yang telah mengisi hari-harinya tepat setahun silam.

Wanita yang cantik baginya, teramat baik untuk mengerti disetiap kondisi, termasuk sesulit apapun itu, dia selalu tampak tersenyum dengan kedewasaannya.

Disetiap masalah dia selalu hadir utk menjadi solusi atau hanya sekedar mencari tau info nya saja dan itu sudah cukup menguatkan hati Faizal.

Memandang photo itu sama saja dengan keharusan Faizal untuk mengingat dan mengenangnya kembali ketika Candra masih lekat dalam hatinya.

Dari long distance sampai dekat dalam satu kota yang sama, tak ada yang berubah

dalam kesetiaan Candra, dia selalu bercerita tentang hari-harinya dengan lugas disetiap pertemuan,

selalu bilang ketika mau pergi kemana saja dan dengan siapa saja walau terkadang Faizal tak meluluskannya, tapi Candra tetap menerimanya dengan senyum.

Waktu itu Faizal begitu meyakini bahwa Candralah yang akan dipersuntingnya nanti.

Candra tak pernah berusaha menyakiti hati Faizal dengan menceritakan setiap lelaki yg pernah dekat denganya kecuali Faizal sendiri yang meminta untuk menceritakannya.

Bahkan ketika Faizal terjebak cinta segitigapun Candra lah yang berperan besar menyelesaikannya dengan baik. "Kenapa aku begitu bodohnya mengakhirinya saat itu, andaikan aku tahu rasanya akan seperti ini,

aku tak akan pernah mengakhiri hubungan itu" Faizal sambil menarik nafas dalam-dalam yang sepertinya enggan untuk melepaskan nafasnya kembali.

"Sudah setahun ini aku menikahi kerinduan yang sangat mendalam, seperti sumur yang tak ada dasarnya,

entah sampai kapan rindu tanpa arti ini terus bermukim dalam savana hati ini" Faizal terus bicara sendiri dikamarnya ditemani alunan musik dari album Rihana,

salah satu penyanyi yang disukai Candra. Faizal meletakkan kembali photo itu ditempat semula dimeja nakastnya disamping kanan tempat tidurnya yang terlihat berantakan,

yang tak pernah sampai terjadi ketika Candra masih bersamanya.

"Kujadi ingat kembali, saat itu ketika aku pertama menginjakkan kaki dikota ini dan memutuskan untuk tinggal dan memulai hidup baru ditempat ini,

bolos dari tempat kerja dengan susah payah kau menjemputku di travel shutle yang jauh dari tempatmu tinggal,

walau dengan tiga kali salah arah ahirnya kita bertemu juga, sampai kau mengantarkan aku ke sebuah Paviliun kecil sebagai tempat tinggal baruku yg kau cari seminggu yg lalu"

Faizal terus merefresh memorinya.

"Paviliun yang situasi dan kondisinya sesuai dengan keinginan dan kebiasaanku padahal aku tak pernah mengutarakannya dgn detail,

tapi dia memang telah mengerti aku begitu rupa, dan mungkin itu pula yang membuat aku merasa nyaman dengannya"

Faizal kembali menarik napas panjang, sorot matannya lekat menggantung dilangit-langit kamar.

"Dia telah banyak berkorbann demi cintanya padaku bukan dengan kamuplase yang banyak ditampilkan banyak wanita diatas altar alasan dan perasaan.

Kau wanita kota yang berlaku sederhana seperti wanita desa, tak banyak yang kau lihat dariku, tak banyak yang kau perbandingkan

dengan yang lainnya, selain kerelaan hati menerimaku, dan kau hanya melakukan apa yang kau rasakan dengan penuh pengertian yang membuat hatiku menjadi teduh."

"Dahulu aku fikir kau adalah cikal dari adik-adik mu tapi nyatanya kau anak tunggal satu-satunya tapi kadang aku tak habis fikir prilakumu jauh dari egois, yang

biasa dipertontonkan oleh anak tunggal kebanyakan" Faizal melirik kembali frame photo itu yang penghuninya masih tetap tersenyum, yang semakin terus membangkitkan

kenangannya yang masih tersimpan berjilid-jilid didalam otaknya, dan tak ada satupun jilid tentang kejelekannya ditemukan. Aku memaksa mengakhirinya bukan karena ketidaknyamanan

ataupun karena kesalahannya tapi karena ketidakpercayaan tentang masa lalunya, padahal dia telah menceritkan semuannya sampai hal yang tak pantas aku perdengarkan." Faizal mencoba bangkit dari

pembaringannya lalu ditariknya salah satu laci meja kerjanya, dan ditemukanlah surat pertama dan terakhir yg pernah ditulis Candra dengan tangannya sendiri di alinea terakhirnya tertulis ;

"Bila masih menghitung rasa sakit,

sudah sangat banyak sayatan dihatiku,

Tapi setiap kau kembali menyentuh hatiku,

Luka itu nyaris hilang tanpa bekas,

Sejatinya kamu telah menjadi penawar dari setiap luka yg kau iriskan sendiri dihatiku,

Tapi sekarang.....

Ingat dan fikirkanlah setiap kau akan kembali padaku,

Janganlah lagi kau haraf kembali ketika kau hanya merasa sepi,

dan kau ahiri lagi ketika keraguan itu datang,

karena air mata sbg penyejuk hatiku telah habis,

...kembalilah bila kau ingin menikahiku,

TTD

Candra

"Huuuhhh...."

Faizal menghela nafas dan menghebuskannya jauh seperti ingin melempar rasa sesal yg menumpuk dihatinya,

"Candra dengarkanlah, aku ingin menikahimu sekarang...tapi semuannya sudah terlambat,

kau telah menjadi seorang nyonya dari tuan yang bernama Andika,

seorang pria yang sabar menungguimu enam tahun lamanya, dan dia juga mungkin sama seperti aku pernah ragu padamu tapi aku yakin dia lah pria yg beruntung."

Faizal melipat surat kembali seperti semula dan menaruhnya dilaci yang sama.

"Mungkin temanku benar, dia pernah bilang padaku setiap kemudahan adalah jalannya Tuhan,

dan bila kamu mempersulitnya dengan permainanmu sendiri apalagi dengan mengujinya, mungkin kamu sedang tidak percaya dengan Tuhan dan mempermainkan takdir itu yg sedang menghampirimu,

dan sekarang aku meyakininya takdir itu memang ada dua Illahiah dan Ikhtiariah, jodoh adalah ikhtiariyah yg fifty-fifty, separuh kuasa Tuhan dan separuhnya lagi

totalitas pengharafan & usaha"

Jam dinding kamar berdenting tiga kali menunjukan sudah jam tiga pagi, Faizal kembali naik ke tempat tidur, sambil melirik photo wanita itu lagi,

"Slamat pagi Candra, ikutlah tidur bersamaku saat ini saja...!!

Faizal memejamkan matanya dan berharaf candra hadir dimimpinya.

lima menit berselang "twiiit....twiiit...." ternyata ponsel Faizal berbunyi rupanya ada tweetupdate dari @lifecase:

"@lifecase, Penyesalan memang selalu tertunda diakhir, karena setiap penyesalan terjadi ketika menunda atau menghentikan hasrat hati dan waktupun tak pernah berlaku sama seperti dulu.

Penyesalan bukanlah alasan menjadikan diri terpuruk tapi suatu keharusan untuk terus belajar dari hikmah setiap kejadian untuk meningkatkan kualitas hidup.

Slamat pagi para follower....!!"

Menanti Penari,

Oleh. Ases ID

Penari itu tak kunjung tiba, penari yang merelakan setiap jengkal lekuk tubuh mulusnya jadi tontonan setiap mata para keranjang. Yang belum bisa terpuaskan oleh setiap para istrinya yang telah setia menemaninya bertahun bahkan berbelas tahun yang lalu.

Mungkin mereka ingin bernostalgia pada masa lalunya ketika istrinya masih ranum berseri layaknya buah segar yang baru dipetik.

Isi botol-botol itu telah berpindah pada gelas-gelas beling yang entah sudah berapa kali habis oleh mereka dan terisi kembali oleh jari-jari lentik berkutek pink lima perempuan genit yang berlaku nakal.

Gelas surga, itu yang mereka anggap dan bikin terus terulang tertuang ke mulut-mulut gelisah. Ritme musik club malam semakin menderu seperti suara riuh dipacuan kuda yang minggu lalu sempat kulihat.

"Mana si putih itu Jack ? Sudah dua jam neh kita menunggu" Ray berteriak tak mau kalah dengan dentum speaker yang terus memekakan telinga,

"Masih pasang silikon kali, biar tambah yahut.......ha...ha..." dari meja seberang paling jauh terdengar suara lamat-lamat dibalik kerasnya musik , rupanya tubuh kurus bertato naga dilengannya, suara itu bersumber.

Tinggal satu jam lagi jatah mereka diruangan itu, ruang No. 8 yang disewa sepuluh orang rutin, sebulan sekali di setiap awal bulan.

Semua dana sebenarnya sudah disiapkan dari kas perusahaan tempat mereka bekerja, sebaagai dana entertaint biasa mereka bilang.

Mic sudah tak terhitung berpindah tangan, dari sofa kulit hitam ujung depan sampai sudut paling dalam, rasanya sudah tak ada yang terlewat, sebagian dari mereka parau, mungkin mereka itu tak biasa berteriak,

Disitu mereka merasa merdeka dengan dirinya, lepas berteriak dgn lagu-lagu yang dihapal liricnya walau terkadang ngaco,

Setengah jam lagi ruang No. 8 akan diisi oleh member berikutnya, penari itu tak kunjung datang. Suasana mulai ricuh, setelah Ray "sikepala suku" begitu mereka menyebutnya mulai kasar melampiaskan kekesalannya, Perempuan-perempuan genit didepannya menjadi bulan-bulanan mulut-mulut mereka yang tak lagi terkontrol, tangan-tangan yang tak lagi beretika atas komando air-air terkutuk yg telah bersatu dengan darah mereka. Memperdaya otak mereka seperti sigila dijalanan. Situasi semakin tidak terkendali

"Crazzzzk....." pecahan botol menjadi additional perkusi mengiringi musik yang terus beralun, ditambah gelas dipaksa jatuh oleh mereka.

Ruang itu sudah seperti ruang karantina pasen gila yang baru masuk dua menit yang lalu, Mereka terus berteriak mempertanyakan penari itu, penari yang telah membuat mereka berharaf, berharaf bisa menghilangkan hasrat gundahnya, Sekarang mereka mulai merasa kecewa karena telah dibohongi janji manis penari berkulit putih yang melekat ditubuh aduhai.

Setelah dirasa panik dan diluar kendali lima perempuan itu, salah satu diantara mereka, tepatnya yang paling dekat dengan meja operator memencet tombol darurat security,

Tak lama berselang empat pria bebadan tinggi besar masuk ke dalam ruang 8, tanpa basa-basi, apalagi kompromi langsung menarik tubuh-tubuh sempoyongan yang tak habisnya terus meracau dan menantang security dengan menegakan punggung saja sudah tak mampu.

Yang masih sadar terlihat dengan rela hati mereka keluar sambil meununtun temannya yang sudah mulai ambruk tanpa daya.

Aku, yang hanya bisa terdiam menyaksikan mereka, mengikuti mereka keluar. Ruang 8 telah kosong, dengan jejak berantakan dan musik masih terus menderu.

Diteras ruang, mereka menunggu lunglai seperti masih berharaf penari itu akan segera tiba tetapi sampai jam 5 penuh, penari itu tidak tampak juga dan pupus sudah harafan mereka di bilas rasa kecewa yang mendalam.

"Tuhan terima kasih, Kau telah selamatkan untuk kesekian kalinya"

Lingkungan yang tidak baik mungkin bisa saja membawa setiap orang pada keburukan, tapi tidaklah demikian bagi mereka yang selalu mempertahankan prinsif hatinya, prinsif yg selalu berpegang pada nilai-nilai kebenaran, Karena campur tangan Tuhan akan selalu terus menjaganya, dalam situasi dan kondisi apapun...

Lebih baik aku gila saja daripada terus begini,


Kenapa aku ini, masih selalu mengulang ?!

Ketika kesalahan itu kembali terjadi disetiap lirikanMU,

Kenapa aku ini, masih sering lupa saja ?!

Ketika janjiku terhadapMU sering lepas dari azamku,

Kenapa aku ini, yg masih terhantui dgn kufur ?!

Ketika sejuta nikmat tlah KAU hidangkan,

Kenapa aku ini, masih saja sering menunda waktu ?!

Ketika suaraMU dimana-mana menelusup pada kupingku,

Kenapa aku ini, masih saja tak tersentuh hatinya ?!

Ketika dihadapanku KAU pertlihatkan anak kecil merintih dengan sakitnya,

Kenapa aku ini, masih sering tersesat di kenistaan?!

Ketika jalan itu telah kau arahkan,

Daripada terus begini Lebih baik aku gila saja…….

Gila untuk mengingatMU,

Gila untuk mendatangiMU,

Gila untuk mensyukuri nikmatMU,

Gila untuk sentuhanMU,

Gila untuk mengikuti jalanMU,

Karena kuyakin dengan kegilaan semuanya bisa tercapai,

Tanpa lagi harus berhitung untung rugi seperti pedagang,

Tanpa rasa takut lagi seperti seorang budak akan tuannya,

Tanpa harus terpikat lagi akan wanginya surga,

Tanpa harus takut lagi akan sengitnya neraka,

Gila….aku benar-benar ingin menggilaiMU……….

Merindukan sekeping hati yang beda.....

Dahulu memang kupernah ragu,

Kemarin sempat kupernah yakin,

Sekarang keyakinan itu sepertinya akan hilang,

Entah mau menjadi kepastian atau pencarian yang masih harus berlanjut,

Padahal kutelah merindukan,

Sebuah istana kecil yang berpenghuni,

Raja dan ratu beserta putra putri mahkotanya,

Yang kelak akan mewujudkan mimpi sang raja yang masih belum terwujud,

Yang nanti akan meneruskan cita cinta sang ratu yang masih berupa rencana,

Malam ini kerinduan itu smakin terpatri,

Didada yang tak pernah henti untuk menjadi,

Bait-bait cerita tentang aku, kamu dan dia,

Dalam bingkai kisah suka, duka, canda, tawa bahkan pilu sekalipun,

Semuanya akan tampak indah menjadi romantika diary hidup yang sebenarnya,

Malam ini kerinduan itu semakin terngiang,

Dikedua kuping yang sudah lama berharaf mendengar tentang ini,

“ Pah, sekarang sudah malem saatnya istirahat, udah kerjaanya ditinggal dulu…. !!”

“Yah, ini kopi nya, klo abis tolong panggilin bunda lagi ya….!!

“ Pih, Makan malemnya udah siap…. Mau disuapin or mau sendiri ?? (si mamih sambil memperlihatkan kemanjaanya)

“ Dady cepet dunk….!!! Temenin momy bobo…………!!! Dengan desahanya yang tak mampu untuk ditolak lagi,

Malam ini kerinduan itu semakin tergambar,

Jelas dibenakku hingga ku tersenyum,

Hingga kumalu sendiri….kenapa ko sampai sebegini melow’y malam ini,

Ahh…… mgkin ini hanyalah sebuah epect domino saja,

Yang kadang ada yang kadang juga menghilang,

Malam ini kerinduan itu semakin menghayutkan,

Hingga lelahpun semakin terasa,

Karena sudah sangat jauh untuk berenang dan bertahan karena janjiMU,

Dan ku pun mulai teringat dengan satu kalimat sang pujangga,

“Cinta sejati itu akan datang ketika rasa lelah itu telah datang”

Dan mungkin saat itu sudah semakin mendekatiku……

Malam ini kerinduanku semakin mendalam,

Seperti kumerindukan istri yg kunanti seperti sosok ibuku,

Dia mempercayai ayahku sepenuh hati,

Dia hanya melihat niatnya dan tidak selain itu,

Dia sering jadi tempat berkeluh yg sangat bijak,

Dia pendukung hati yang sangat tangguh dikala susah,

Dia meengajari anaknya bukan dengan kemanjaan tp dengan cermin derita,

Dia perlakukan ayahku dgn cinta ketika sakitnya begitu lama sampai maut menjelang,

Dia setia pada ayahku sampai mati,

Dia berani bertaruh untuk anak2nya hingga kini,

Dia sangat mengerti tentang segalanya,

Dia adalah yg paling sempurna yg pernah kumiliki,

Malam ini benar-benar kumerindukan semua itu………………..

Malam ini kubertemu denganMU....

Malam ini ku berkunjung ke rumahMu,

Kau menyambutnya dengan segala kasih yg tak berbatas,

Di altarmu yang begitu sangat indah,

Kau hidangkan dua pilihan yang menggoda,

Sebuah bejana hawa nafsu dan sepiring keraguan

Kau juga hidangkan satu gelas keyakinan yang tidak begitu menarik bagiku,

Dan Kau pun berkata,

Pilih lah dan bawalah satu di antara tiga ini,

Itulah hidupmu kelak yang akan kau rasakan,

Sekarang dan juga nanti,

Setengah tertunduk,

Akupun memandanginya sambil berfikir,

Manakah yang terbaik ??

Manakah yang akan membuat hidupku bahagia selamanya ??

Bejana hawa nafsu memang dikemas dalam bejana yg sangat mengagumkan,

Sangat ingin kumemilikinya,

Karena didalamnya berisi kesenangan dan keindahan,

Dan tiba-tiba bejana itu pecah dengan sendirinya,

Serta keluarlah ular hitam berbau busuk,

Aku pun dengan spontan menjauh darinya,

Kemudian aku mengalihkan pandangan ke piring emas,

Yang diatasnya terhidang keraguan yang begitu menawan,

Ku ingin menyentuhnya dan membawanya pulang,

Ku melihat …sepiring keraguan itu menampakan banyak pilihan,

Pilihan yang bisa melepaskan kepenasaran tentang keinginan,

Seketika itu pula piring emas itu meleleh dan berubah,

Menjadi sesosok bangkai manusia yang menjijikan,

Dengan terkaget-kaget akupun meninggalkanya,

Tinggal satu lagi hidangan yang masih tersisa dan belum berubah,

Gelas jelek yang berisi keyakinan,

Dari situ aku belum melihat keanehan seperti dua hidangan sebelumnya,

Tapi tak lama berselang ada bau wangi kasturi yang kucium,

Dan akupun semakin tertarik dengan gelas ini setelah debu yg menghalaginya,

Pudar dengan sendirinya,

Dan beningnya gelas itu smakin jelas terlihat indahnya tentang keyakinan,

Cahaya yang terpancar didalamnya membuatku terpesona,

Hawanyapun membawa kesejukan dan ketenangan,

Dikeheningan yang kurasa,

Tiba-tiba terdengar kelembutan suara,

Bawalah gelas keyakinan ini niscaya kamu akan hidup bahagia dunia dan ahirat,

Dan hidupmu tak akan pernah ragu dan resah lagi,

Semuanya sudah jelas dan pasti itu adalah keindahan yg sejati,

Karena AKU hanya akan memuliakan orang-orang yang yakin kepadaKU,

Tanpa hawa nafsu yang membuat mereka binasa dengan tingkahnya,

Tanpa keraguan yang membuat mereka terlempar kedalam jurang kepalsuanya,

Bila kau ingin yakin padaku tanpa keraguan sedikitpun,

Ingat dan sebutlah selalu namaKU,

Yakinilah semua yang terjadi adalah kehendakKU,

Percayalah segala yang AKU tampakan adalah petunjukKU,

Dan yang terakhir….bergaulah dengan orang-orang yang sudah yakin kepadaKU,

Niscaya kau akan mendapatkan tujuan hidup yang sebenar-benarnya,

Bukan kebimbangan yang kau dapat tapi kemenangan yang abadi,

Seketika ada desir angina dingin meniup wajahku,

Dan suara lembut itupun hilang entah kemana,

Ku hanya mengingat apa yang dikatakanNYA,

Dan membawa gelas keyakinan itu bersama untuk pulang,

Ya Allah kuatkan keyakinan ini padaMU,

Seperti keyakinanku akan kematian kelak,

Dan jangan biarkan aku bersuudzan sedikitpun terhadap rencanaMU,

Oleh : hamba yg selalu rindu padaMU ---ases

Dibukit ini kubertanya….

Dibukit ini hawa dingin begitu menusuk,
Apalagi langit mendung tak sungkan untuk turunkan gerimis malam ini,
Makin malaslah untuk beranjak,
Kuhanya bisa minum secangkir kopi dan duduk termenung,
Berfikir tentang langkah apa yang harus kutempuh,
Supaya tak lagi kuberlabuh,
Karena kuyakin suatu saat nanti hati ini akan rapuh,
Bahkan runtuh……

Ketika kutelah melihat yang belum boleh dilihat,
Ketika kumendengar yang belum pantas kudengar,
Ketika kumerasa yang belum pernah kurasa,

Ketika semuanya telah diilhamkanNYA,
Ketika semuanya telah ditampakanNYA,
Ketika semuanya telah dimudahkanNYA,
Dengan mimpi dan nyatanya………
Hingga tersambungnya rasa ini,
Semuanya adalah benar2 kuasaMU,

Masih haruskah aku meragu ??
Masih beranikah aku berharap ttg kegelapan yang tak pernah tau kan berujung dimana ??
Harus dgn apalagi aku harus mempercayainya bila ku tidak mempercayai setiap kejadian yang telah KAU perlihatkan ??

Cukup bijak kah bila ahirnya ku harus meninggalkanya setelah semua ini kulalui ??
Tentang air mata atau mata airkah ini bagiku ??

Walau kau tidak bisa berikan jawaban buatku,
Terima kasih bukit bisu kau telah bersedia mendengar apa yg kurasa saat ini,
Semoga setelah kuungkapkan padamu….
Gubuk rindu terahir utk berteduh segera tampak.

Bagian itu telah hilang

Bagian itu telah hilang,

Sesaat setelah kita bersama,

Merajut asa menjadi laksana,

Merangkai janji menjadi bukti,

Menguntai mimpi menjadi nyata,

Hingga tercipta sehelai sajadah cinta,

Yang kelak akan menjadi kendaraan kita,

Bagian itu telah hilang,

Setelah nyala api itu terus membakar perasaan,

Tentang keraguan,

Tentang kepuasaan,

Tentang kepalsuan,

Tentang kesetaraan,

Hingga menjadi abu…hilang tertiup angin tak berbekas,

Bagian itu telah hilang,

Ditelan gelapnya ketidakpastian,

Digulung dahsyatnya badai keinginan,

Dihanyutkan arus ketidakpercayaan,

Tersesat….Terhempas….dan tenggelam….

Sampai tak terlihat lagi,

Dan kuyakin itu akan kembali,

Seyakin malam yang tak akan pernah kesiangan,

Seyakin siang yang tak akan pernah kemalaman,

Keduanya bertemu disaat yang indah,

Seperti bias fajar ketika pagi akan datang,

Seperti lembayung ketika petang menjelang,

Kerinduan Burung Nuri

Embun masih tersisa di dedaunan,
Berkilat dijilat mentari bagai permata,
Diatas pohon randu bertengger…
Seekor burung nuri yang sedang bernyanyi menyambut pagi,
Ceria menikmati indahnya dunia,
Jauh dari temannya yg berkoloni….
Yg sudah mulai terbang rendah diatas padi yg mulai menguning,
Sekedar utk sedikit menikmati jerih payah para petani,

Sang nuri makin merdu kicaunyapun,
Akupun tertarik utk bertanya padanya,
Apakah kau tak merasa sepi sendiri disitu ??
Bagaimana kau mengusir kejenuhan ??
Siapa yang selalu memenanimu ??

Sang nuri pun menjawab dengan kicau merdunya sambil berkata ;
Kusendiri karena kuyakin kemandirianku sekarang adalah awal dari keindahan yang telah dijanjikanNYA padaku nanti,
Kutak pernah merasa jenuh karena ku selalu membuka mata dan hati ini untuk mengagumi setiap maha karya Illahi yg tiada celanya….indah…sempurna, penuh arti bagi mereka yang mau berfikir dan bersyukur,
Yang selalu menemaniku adalah aku yang selalu mengingatnya dalam kerinduan yang sangat dalam …. Sedalam samudera yang paling dalam,
Merindukanya adalah keindahan bagiku,
Entah…. akan kah aku melihatnya nanti ??!!

Aku sungguh iri denganmu sang nuri,
Kau tak berakal tapi syukurmu…kerinduanmu terhadapNYA begitu besar,
Tetapi aku….Mahluk yg berakal
Hanya bisa mengeluh setiap lumpuh,
Hanya bisa menangis setiap hati teriris,

Inikah ??

Ketika kau bersedih kenapa aku yang menangis,

Ketika kau merintih kenapa aku yang perih,

Ketika kau bersimpuh kenapa aku yang luluh,

Ketika kau tersinggung kenapa aku yang marah,

Ketika kau bingung kenapa aku yang murung,

Ketika kau cemas kenapa aku yang kandas,



Ya Allah tentang apakah ini ??

Apakah aku telah benar2 menyayanginya ??

Apakah aku telah sampai mencintainya ??

Hingga seperti cabai akan pedasnya,

Atau air laut akan asinnya,

Sampai sulit untuk memilahnya apalagi memisahkanya,



Mungkin ini derita,

Tapi derita yang sungguh menyenangkan bagiku,

Derita yang membuat api dalam jiwaku kembali menyala,



Andaikan kau tau,

Andaikan kau mau,

Menjalani yang aku tau dan aku mau,

Ini tak akan pernah terjadi,



Bila aku untuknya

Jadikanlah setiap jariku sebagai penyeka air matanya,

Jadikanlah pundaku sebagai sandaran setiap keluhanya,

Jadikanlah setiap kata yg kuucap sebagai penghiburnya,



Ya Allah….

Hanya satu pintaku untuknya,

Aku ingin bisa melihat dia tersenyum bahagia,

Kisah Musafir Cinta,

Hanya berbekal niat dan kebodohan,

Yang kulakukan hanyalah,

Meraba dalam gelap,

Merasa saat mati rasa,

Smuanya tak jelas dan semuanya semu,

Disaat mata yg menjadi petunjuk,

Makin banyak yg tak pantas dilihat ternyata terlihat,

Disaat fikiran yang menjadi pemandu,

Makin banyak kekurangan yang terus diperhitungkan,

Disaat hati yang menjadi rambu,

Makin banyak kepalsuan yg termanipulasi,

Telah banyak omah hati kusinggahi,

Semuanya berwarna tanpa makna,

Telah banyak pedati jiwa,

Tak kutemukan yg beroda sama,

Semuanya diluar keselarasan,

Sudah banyak lembar yang kutulis dari perjalanan itu,

Ntah tinggal berapa lembar lagi yang masih bisa kutulis,

Akupun tak tahu lagi apakah tinta ini masih cukup untuk tulisi sisa2 lembar itu,

Karena telah banyak nama yg tertulis sebagai judul ditiap jilidnya,

Tetapi tak pernah tertuntaskan dengan ending yang indah,

Bila kubisa meminta,

Janganlah KAU pertemukan aku dengan nama-nama yang hanya singgah sesaat,

Bila ku boleh memohon,

Janganlah KAU persatukan aku dengan nama-nama yang hanya lewat saja,

Bila ku harus menyerah,

Janganlah KAU patahkan semangatku saat ini

Karena mungkin inilah saatnya kumenagih janjiMU,

Satukan aku dengan yang telah KAU ciptakan untuku…

Sekarang aku telah merasa ada,

Dalam lingkar jiwa yang tak terhingga,

Yang bisa merasa yang belum pernah terasa,

Yang bisa melihat yang belum pernah terlihat,

Yang bisa berfikir yang belum pernah terfikirkan,

Percayailah aku untuk mengabdi padaMU

Jual Diri

Menghargai diri sendiri memang sulit,

Apalagi menjualnya dengan harga yang pantas,

Kebanyakan qta hanya berpasrah,

Terserah mau dihargai berapa,

Yang penting dipakai,

Yang penting dapet kerjaan,

Yang penting waktu tak terbuang sia-sia,

Ya jelas saja dapetnya juga seadanya,

Ya jelas saja dibayarnya juga segitu-gitu aja,



Bila qta mau berfikir & berhitung tanpa ketakutan,

Berapa banyak waktu yang terbuang utk mendapatkan ilmu,

Berapa banyak rupiah yang telah keluar utk dapetin sertifikat di tiap jenjang,

Apalagi yang telah melampaui berbagai strata,

Dan stelah bekerjapun demikian,

Berapa lama qta didepan monitor,

Makin tak terhitunglah semuanya,



Tanpa mau tau semua itu,

Para user dengan seenaknya, menikmatinya dgn menentukan harga semaunya,

Untuk membayar qta ditiap ahir bulan,

Dengan nada sinisnya,

“klo ga mau sgitu ywdah masih banyak yg lainya mengantri ko……”



Andaikai qta percaya secara utuh terhadap rezekyNYA,

Andaikan qta punya bargaining power yang kuat,

Andaikan qta semua sepakat untuk lebih menghargai diri sendiri,

Andaikan qta semua sepaham untuk menjual ilmu yg qta punya,

Qta akan menjual diri dengan harga yang seimbang,

Dan bukan hanya untuk memperkaya para mereka saja,

Tetapi qta jg wajib sejahtera,

Ulang Tahun yang selalu terulang,

“Selamat anda jadi juara kali ini”

“Selamat menempuh hidup baru”

“Selamat atas mempertahankan gelarnya tadi malam”

Dan selamat2 yang lainnya…

Tetapi ada satu yang aneh,

Bagi sebagian orang sangat dinanti dan diharaf,

Untuk mendapatkan “selamat ulang tahun” disetiap tanggal kelahirannya,

Tidak wanita ataupun pria,

Tidak Muda ataupun tua,

Mereka sama saja,

Bahkan sepasang sejoli yg lg dirundung asmara, kata itu adalah wajib …bila kata itu lupa untuk terucap bisa ribet neh hubungan,

Yang saya tahu,

Biasanya “Selamat” diucapkan pada orang yang berprestasi,

Ataupun kepada orang yang sedang bahagia,

Yang menjadikan saya bingung,

Apakah ulang tahun adalah suatu moment bahagia ??

Ataukah regulasi waktu seseorang dalam berprestasi ??

Mungkin jawabanya adalah bukan,

Yang saya tahu juga,

Ulang tahun adalah perhitungan tahun dimana setiap orang berkurang atau hilang sbagian jatah hidupnya didunia ini,

Disaat orang kehilangan,

“Selamat ya umur anda berkurang satu tahun”

Kaya’y aneh deh Cuma beda format’y aj kali ye…padahal maksudnya mah kesitu,

Bila tujuannya seperti itu,

Etiskah untuk diselamati ??

Pantaskah untuk bikin party ??

Aneh…memanglah aneh,

Terkadang sebagian orang merasa bangga bila bisa mengadopsi budaya barat,

Walaupun tidak tau maknanya,

Bahkan terkadang berucap tanpa tahu maknanya apa ??

Walaupun saya tidak tahu darimana budaya ini berasal,

Yang jelas ini mgkin bukan budaya para Nabi,

Atau tradisi para wali,

Dan mungkin ini hanya kreasi kafitalis sebagai pundi2 emas yg mereka tebar untuk bisnisnya,

Ulang tahun….

Dimana seharusnya menjadikan moment untuk bertafakur tentang dirinya,

Sudah punya apa untuk pulang nanti ??

Sudah dapat apa untuk mempertanggung jawabkan’y nanti ??

Mungkin seharusnya bukan selamat yg harus diucapkan,

Tetapi warning…..

Semoga saya tidak menjadi pengikut tradisi ini…..

Balada Para Kapiran....

si kepala setiap manusia emang berbeda,

Tapi itu bukanlah masalah yang besar untuk menyatukan perbedaan,

Karena perbedaan adalah bakal dari kesempurnaan,

Bila yg dibutuhkan itu sudah ada dalam pelukan,

Bila yang terbaik itu sudah dalam dekapan,

Kenapa mereka masih berkalkulasi dengan ketidakpastian??,

Kenapa mereka masih berhitung dengan prasangka keraguan ??,

Apakah mereka fikir keinginan itu akan menentramkan hidupnya ??

Apakah mereka fikir yg diperhitungkannya akan membahagiakan hidupnya ??

Bila mereka selalu mengejar apa yang diinginkanya,

Apa yang diharafkanya,

Aq ragu & sanksi mereka akan mendapatkanya,

Sebab katanya...yang kita butuhkan itulah yang benar2 akan membahagiakan qta !!

Janganlah menjadi bait cerita balada para kafiran,

Yang selalu berharaf dengan ketidakpastian,

Yang selalu bermimpi tanpa :

Mawas diri,

Melihat kedalam,

Menoleh kebelakang,

Tanpa semua itu....

Pantaskah untuk mendapatkanya ?!?

Adilkah bersanding dengannya ?!?



Mungkin hanya diri yg paling jujur yg bisa menjawab semua ini tanpa harus malu dan bimbang....

Cukup 1% saja......

Cukup 1% saja qta utk berharaf tentang apapun dlm hidup ini,

Karena terkadang harafan itu didapat dari kebohongan dan kemunafikan,

dari wajah2 inocent yang menghanyutkan,

dari lidah2 manis yang menyakitkan,

dari keraguan yg takut akan kehilangan,

dari air tenang yg menjadi api yg membakar,

karena 99 % adalah nilai yg sangat pantas utk kenyataan hari ini...untk qta bukan org lain....

Seragu apakah aq ??

Andaikan aq bisa mempercayai mimpi seperti Nabi Ibrahim ??

Andaikan aq bisa seyakin para Mujahid terhadap surgaMU ??

Aq tak akan pernah ragu seperti ini....

Artikel Motivasi

Kegagalan Adalah Ibu Kandung Dari Kesuksesan
Oleh AW

Dalam mengembangkan usaha bisnis atau karir yang sedang kita perjuangkan, sudah sewajarnya kita berharap semua bisa berjalan lancar tanpa hambatan dan kesulitan yang berarti, tetapi dalam proses perjalanannya tidak jarang kita dihadapkan pada kondisi sulit yang muncul silih berganti.
Saat kondisi sulit menghadang kita, tidak perlu ditanggapi dengan sikap pesimis dan terbeban, perlu kita diyakini dan kita sadari bahwa di setiap kesulitan yang mampu kita atasi, maka bersamaan itu pula akan muncul kesempatan baru yang memungkinkan kita melanjutkan dan memperjuangkan usaha kita hingga mencapai kesuksesan.
Tetapi didalam kenyataannya yang sering terjadi, pada saat kita dihadapkan pada kesulitan, rintangan,kesalahan dan problem yg bermunculan, fighting spirit kita menjadi turun, rapuh dan mudah menyerah, semuanya terasa begitu berat dan membebani mental, bahkan tidak jarang membuat kita merasa gagal, frustasi, depresi, putus asa, menganggap ini semua merupakan suratan nasib yang memang harus kita alami.
Mengapa kita mudah menyerah? Mengapa kita cepat merasa gagal? Sebenarnya perasaan di atas ini adalah akibat dari hasil pikiran atau kesadaran tentang proses perjuangan hidup ini yang belum matang.
Jangankan cuma kesulitan yang menghadang, sekalipun kita mengalami kegagalan, ingat setiap kegagalan pasti punya nilai pendidikan tersendiri, seperti kata bijak mandarin : , kegagalan adalah ibu kandung dari kesuksesan.
Kita perlu menyadari bahwa kesulitan, kegagalan adalah bagian dari dinamika kehidupan kita. Setiap kegagalan pasti akan membawa hikmahnya yang setimpal. Kesuksesan sejati adalah kristalisasi dari berbagai macam kesulitan dan kegagalan yang mampu kita atasi.
Untuk itu kita dituntut mempunyai "Keuletan Extra". Keuletan yang berarti : tidak sekedar sabar, bertahan, apatis, pasif, pasrah, tetapi "Keuletan" yang didalamnya mengandung sikap antusias, proaktif, gigih, tegar, berani untuk beraksi terus menerus .
Jika sikap mental "Keuletan" diatas dapat dipraktekan di setiap tantangan yang muncul, sampai menjadi kebiasaan di kehidupan kita, maka kita akan sadar bahwa hanya melalui Kelemahan, Kesulitan, Kesalahan bahkan kegagalan, barulah kita mempunyai kesempatan untuk mematangkan mental dan menjadi dewasa melalui BELAJAR DALAM ARTI YANG SEBENARNYA.

Pembaca yang budiman,
Saya yang telah kenyang mengunyah kesulitan dan kegagalan, saya telah menganggap semua ini sebagai vitamin kesuksesan. BAgi setiap orang yang mau sukses tidak mungkin bias bebas dari kegagalan, tidak ada kesuksesan sejati bias berdiri tegak tanpa kemampuan mengatasi semua kesulita ataupun kegagalan. Maka, memang benar dan tepat bobot dari kata pepatah klasik " ". Kegagalan adalah ibu kandung dari kesuksesan

Mengapa Harus Menunggu?
Oleh AW
Dikisahkan, ada seorang anak berusia 9 tahun. Saat dia sedang membantu ayahnya mengangkut batu bara demi mengumpulkan dana untuk kegiatan amal, terjadilah kecelakaan yang telah merubah seluruh kehidupannya. Dia terjatuh, dan kakinya terlindas kereta api barang sehingga sepasang kaki harus diamputasi. Berbulan-bulan, hari-harinya diwarnai dengan penderitaan panjang, dia harus berjuang dari satu meja operasi ke meja operasi lainnya dan menghabiskan jam-jam yang sangat menyakitkan.

Namun dia tidak pernah patah semangat dan dengan tegar menjalaninya sehingga dokter mengijinkannya keluar dari rumah sakit dengan berkursi roda. Tanpa membuang waktu dia ingin menguji fisiknya dengan belajar berenang. Pertama kali masuk ke air, dia pun langsung tenggelam sampai ke dasar kolam renang. Pelatihnya menggunakan jala untuk mengangkatnya naik ke permukaan. Pelajaran mengapung dan seterusnya dilakukan setiap hari dan 5 bulan kemudian dia mampu berenang sebanyak 52x panjang kolam renang tanpa berhenti! Sungguh luar biasa!

Dan sejak saat itu, tidak ada lagi yang bisa menghalangi keinginannya untuk melakukan kegiatan fisik layaknya orang-orang yang bertubuh normal. Dia belajar menyetir mobil, ikut balapan dan berhasil menjadi atlet gokart yang handal, disegani dan terkenal.

Ketekunannya berlatih fisik di kolam renang dan tempat tinggalnya yang tak jauh dari pantai, menginspirasinya belajar menjadi surf lifeguard, yaitu penjaga pantai yang melindungi dan menyelamatkan para peselancar. Dia satu-satunya manusia di dunia, tanpa kaki yang berprofesi seperti itu. Dia juga belajar Taewondo hingga memperoleh Dan 3. Olahraga lempar cakkram, tolak peluru dan lempar lembing berhasil mengalungkan 35 medali dalam kehidupannya. Pencapaian prestasinya melandasi kepercayaan dirinya membina hubungan dengan seorang wanita yang dicintai. Akhirnya dia menikah dan memperoleh 3 orang anak. Bersama istrinya, mereka bahu membahu menjadi pengusaha sukses. Berkat prestasi dan keinginannya membantu orang lain agar tidak menyerah, akhirnya menghantarkannya menjadi pembicara motivasional kelas dunia. Pemuda hebat itu bernama TONY CHRISTIANSEN.

Saat ditanya apa rahasia suksesnya? Dia menjawab: Mengapa harus menunggu? Jangan menghabiskan waktu dengan duduk dan menunggu tertabrak kereta api sebelum melakukan sesuatu dan mencetak berprestasi. Kecelakaan yang saya alami telah mengasah karakter serta hidup saya dalam beragam cara! Membantu saya dalam menyampaikan pesan kepada semua orang yang mau mendengar, mau belajar serta mau merubah hidup lebih baik! Jadi, mengapa harus menunggu? Segera lakukan! - TAKE ACTION!!"

Smart listener,

Hidup adalah tindakan! Live is action! Sebuah cita-cita yang indah, jika hanya menunggu tanpa bertindak nyata, maka tinggal hanya mayat cita-cita, sebuah perencanaan yang matang tanpa action! Cuma menyisakan coretan kosong.

Cerita manusia luar biasa Tony Christiansen tadi cukup jelas pelajaran yang bisa kita ambil. Bagaimanapun keadaan fisik kita , atau betapapun jeleknya keadaan di luar kita, semuanya bisa di rubah, nothing is impossible, tiada yang mustahil!

Manusia yang paling penting adalah jangan krisis mental. Dengan kekayaan mental, seseorang akan berani memulai dari apa adanya dia, dan semua perjuangannya diarahkan pada titik target besar yang punya bobot dan bernilai. Dengan cara hidup punya kaya mental seperti itu, kita pasti akan selalu menyambut hari-hari baru penuh dengan syukur, optimis, gembira dan menciptakan sukses yang luar biasa!


Kepercayaan Diri
Oleh AW

Alkisah, ada seorang pengusaha yang cukup terpandang di sebuah kota. Suatu ketika, dia ingin pergi berlibur ke desa kelahiran ayahnya untuk istirahat sejenak dari kepenatan pekerjaan. Selain rehat sejenak, di sana ia juga ingin menemui kakeknya yang masih tinggal di desa tersebut. Ia ingin mengunjungi kakeknya karena memang hubungan di antara mereka cukup dekat, meski belakangan ini mereka jarang bertemu. Tak jarang, bila sedang dirundung masalah, si pengusaha muda mencari dan mendapat banyak nasihat dari kakeknya. Sesampai di desa tersebut, setelah berkangen-kangenan sejenak, si kakek segera bisa menangkap maksud kedatangan cucunya. Itu terlihat dari sikap dan raut wajah cucunya. Sunggingan senyum yang seperti dipaksakan di wajah cucunya tak bisa menyembunyikan raut kegelisahan. Maka, keesokan pagi, tanpa basa-basi, kakek pun segera menegur sang cucu di tengah percakapan mereka. \"Cucuku. Kedatanganmu kemari pasti ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan dengan kakek. Ayo, tidak perlu basa-basi lagi, ceritakan saja kepada kakekmu ini. Biarpun sudah tua begini, kakekmu belum pikun dan masih bisa menjadi tempat curhatmu seperti dulu.\" Sambil tersenyum malu si pemuda menjawab, \"Kakek memang hebat. Tidak ada persoalan yang bisa kusembunyikan. Begini kek, Kakek kan tahu, usahaku saat ini cukup maju. Semua hasil yang kuperoleh adalah berkat modal dan bimbingan ayah kepadaku. Kakek juga tahu, aku menikahi istri yang cantik dan pandai. Di sekolah dulu, dia selalu menjadi juara dan primadona. Sekarang pun berkat bantuannya, banyak proyek yang bisa kita dapatkan sehingga usaha kita berkembang semakin besar. Tapi...\" Tiba-tiba si pemuda terdiam sejenak, tak meneruskan kalimatnya. Ia hanya terlihat menerawang. Kakeknya pun kemudian menyela. \"Bukankah semua yang kamu ceritakan tadi bagus adanya? Kakek belum mengerti masalahmu ada dimana?\" Kejar si kakek yang ingin tahu apa yang membuat cucunya terlihat gelisah. \"Jujur saja Kek. Saya merasa tidak percaya diri, bahkan minder bila berhadapan dengan orang asing. Saya merasa, hasil usaha yang telah dicapai adalah karena kontribusi orang-orang di sekitar saya. Dan, sepertinya orang-orang pun menilainya begitu. Saya hanyalah sekadar orang yang beruntung, berada di tempat dan saat yang tepat serta mempunyai pendamping yang tepat pula. Sungguh, saya merasa tertekan dengan kondisi itu,\" kata si pemuda menunduk lesu. \"Cucuku. Coba pikir baik-baik. Seperti katamu tadi, kamu berhasil karena berada di tempat, saat, dan dengan pendamping yang tepat dan benar. Nah, jika tempat, waktu dan pendamping itu tanpa adanya dirimu sendiri, apakah ada keberhasilan ini? Justru kunci suksesnya ada di dirimu sendiri, cucuku...\" Mendengar jawaban tersebut, si pemuda pun merenung sejenak. Tiba-tiba, ia pun berseru, \"Waduh Kek... Saya kok tidak pernah menyadari hal ini sebelumnya ya? Semua keberhasilan ini tanpa saya tidak akan ada. Terima kasih atas pelajarannya kek. Sekarang saya merasa jauh lebih baik dan lebih percaya diri.\" Pembaca yang budiman, Sungguh, kita akan sangat menderita jika kita terbenam dalam sikap rendah diri hingga tak punya kepercayaan diri. Padahal sejatinya, di manapun dan kapan pun kita berada, jika kita menyadari hakekat kemampuan diri, pastilah masing-masing kita memiliki peranan, tanggung jawab dan prestasi yang sudah dikerjakan. Memang, tidak ada sesuatu prestasi yang luar biasa yang bisa tercipta tanpa bantuan orang lain. Namun, kita juga harus memiliki citra diri yang sehat, mampu menghargai diri sendiri serta dapat membangun kepercayaan diri dengan usaha yang telah kita buktikan. Dengan mengembangkan citra diri yang positif, maka kita akan memiliki pula, yakni kepercayaan diri yang sehat, bisa menghargai orang lain dan diri sendiri, dan mampu menempatkan diri di mana pun kita bergaul dengan simpatik, gembira dan menyenangkan. Dengan begitu, kebahagiaan akan selalu kita dapatkan. Andrie Wongso


Aneh, Ngurusi Yang Bukan Urusannya
Oleh Amry

Ada salah satu prilaku kita yang sering terjadi adalah “Ngurusi yang bukan urusannya”, dampaknya adalah hidup tidak tentram. Hidup tidak tentram, akan berdampak pada kesehatan diri maupun kesehatan tatanan masarakat. Ada empat kelompok kehidupan manusia;
(1) Hidup tentram dengan berkelimpahan harta;
(2) Hidup tidak tentram dengan berkelimpahan harta;
(3) Hidup tentram dengan tidak berkelimpahan harta; dan
(4) Hidup tidak tentram dengan tidak berkelimpahan harta.

Kesempatan ini, akan diambil kasus masalah “hidup tentram dengan tidak berkelimpahan harta”, tidak berkelimpahan harta dalam tulisan ini, bukan berarti hidupnya kekurangan, namun hidup yang tidak berkelebihan harta berlimpah ruah, namun ketentramannya sangat berlimpah ruah.
Tulisan ini sudah diterbitkan di Harian Waspada pada tanggal 26 Mei 2008, dihalaman bisnis dan teknologi, dengan judul “Mencari Tuhan di Penggorengan Pisang Raja”, maaf kami belum bisa menyebutkan penulisnya, sebab sampai sekarang belum menemukan penulisnya.
Sore hari terasa lezat jika disisipi beberapa potong pisang goreng dan teh manis hangat. Setelah lelah berdiri beberapa jam menyampaikan materi pelatihan, laju mobil mengantarkan saya ke sebuah warung gorengan yang tidak jauh dari komplek perhotelan mentereng di negeri ini. Kaca mata bisnis saya selalu saja senang memperhatikan geliat orang-orang yang berani menolong diri sendiri dan keluarganya melalui usaha halal dalam bentuk apapun. Melihat warung ini, saya mencoba mengkalkulasikan kira-kira berapa besar nilai bisnisnya. Bagaimana pengelolaannya, bagaimana pemasarannya, teknik jual si pelayan dan berbagai hal-hal teoritis lainnya.
Seorang paruh baya menyodorkan sepiring pisang goreng ke hadapan saya sambil tersenyum ramah dan berbasa-basi mempersilahkan saya untuk mencicipinya sekaligus menanyakan minuman apa yang saya minati. Pemilik wajah yang begitu teduh dan damai itu bernama Sudiro yang akhirnya saya tahu bahwa panggilan akrabnya adalah Wak Diro.
Menikmati pisang goreng terasa lebih hangat dengan obrolan ringan bersama Wak Diro. Dalam guyonan yang mengalir saya tahu ternyata Wak Diro adalah perantau asal Kudus yang sudah 16 tahun menjual gorengan pisang. Dalam satu hari ia bisa menghabiskan satu tandan besar dan hasil penjualannya bisa menyekolahkan ke empat anaknya hingga menjadi sarjana. Wak Diro rupanya jebolan fakultas teknik universitas negeri tertua di Jogjakarta, walau ia hanya bisa sampai semester 5.
“ Kenapa tidak bisnis yang lain Wak? Atau menjadi pegawai negeri?” tanya saya menyelidik. Belum sempat menjawab pertanyaan saya, ia menundukkan badan tanda permisi kepada saya karena datang satu mobil Kijang Inova baru yang mendekat. Ternyata mobil itu dikemudikan oleh istrinya yang mengantarkan sesuatu.

Pikiran saya berputar tak tentu. Tanpa sadar saya sedang menakar kantong orang tua ini. "Seorang penjual pisang goreng mampu menguliahkan keempat anaknya hingga sarjana dan kini didepan mata saya, si Istri datang dengan mobil baru yang tidak murah harganya".

Bukan Cari Uang
Oleh Amry
Sekali lagi saya jarah lagi semua sudut warung kecil itu. Penataan dagangan lumayan menarik, tetapi tidak istimewa. Kualitas produknya berupa gorengan juga terasa sama seperti pisang goreng ditempat lain. Atmosfir warung juga sama seperti warung-warung lain, walau yang ini terlihat lebih bersih dan terjaga. Sarana promosi sangat sederhana, hanya tulisan Pisang Goreng Panas yang ditulis tangan dengan kuas biasa. Daftar harga tercetak di selembar kertas terlaminasi yang ditempel di dinding sebelah kiri. Ada dua orang pegawai yang membantu menggoreng, membuat minuman dan melayani pelanggan sekaligus. Tetapi jumlah pembelinya silih berganti, tidak sederas air pancuran, tetapi datang satu-satu seperti tiada henti.
Tak lama kemudian istri Wak Diro pergi, kata Wak Diro, istrinya harus mengantar beberapa kertas tisue ke lima cabangnya yang lain. Dan informasi itu membuat saya memilih untuk bertahan lebih lama demi mengetahui apa rahasia sukses bisnis ini.
Setelah melewati beberapa basa-basi, lalu ia bertanya kepada saya, "Mas, sampean apa percaya sama Gusti Allah?". Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab, karena saya tidak bisa memperkirakan kemana arah pemikirannya.

Lalu tanpa menunggu jawaban saya, Wak Diro menjelaskan bahwa dalam 8 tahun terakhir Ia tidak lagi mencari uang semata, tapi Ia mencari Tuhan. "Uang bagi saya hanyalah sekadar bonus atas pencarian dan pengabdian saya ke Gusti Allah".

Seperti pengakuan kebanyakan manusia, Ia meyakini bahwa hanya Tuhan yang sanggup mengarahkan dirinya kepada kondisi apapun."Mas, saya bukan jualan pisang goraeg lho", aku Wak Diro, "Saya ini sedang membantu orang-orang agar bisa beribadah dengan baik". "Wow..." pikir saya, apakah penjual pisang goreng ini masih waras?
"Saya ini senang membantu banyak orang dengan mengganjal perutnya agar ibadah shalat Ashar dan Maghrib-nya berjalan dengan baik, karena jam makan malam biasanya setelah Shalat Isya" terang Wak Dirno. Saya mulai memahami apa maksud kalimat Wak Diro sebelumnya, "Uang bagi saya hanyalah sekadar bonus atas pencarian dan pengabdian saya ke Gusti Allah".
Kini saya paham, mengapa ia begitu ramah menyambut tamu-tamunya, kualitas gorengan tetap terjaga baik ukuran maupun takarannya dan ruangan kedai ini tetap terjaga kebersihannya. Jelas bukan karena sekadar mencari uang, tetapi Wak Dirno sedang beribadah. Mencari keridhaan Tuhan. Seperti dijanjikan Allah ketika kita bersyukur, maka nikmat itu terus bertambah dan mengalir lancar.

Saya benar-benar terbayang betapa saya dan banyak sahabat saya yang kerja mati-matian siang -malam hanya sekadar mencari uang. Bayangan itu begitu asam terasa setelah mendengar pengakuan Wak Diro itu. Betapa Wak Diro sudah menemukan kunci dasar sukses bisnis. Ia tidak sekadar menjual jajanan, ia muncul dengan alasan yang lebih mulia. Pisang goreng hanya media mendapatkan ridha Sang Khalik. Semua bentuk kerja dan bisnis dikerjakannya dengan menghadirkan batin, tulus dan iklas.

Khawatir
Oleh Amry
"Bagian saya adalah mempermudah ibadah orang lain, bagian Gusti Allah menjaga saya Mas" "Saya hanya pasrah dan memohon agar selalu dituntun Gusti Allah" aku Wak Diro. "Apapun langkah saya, saya percaya Gusti Allah akan menyelamatkan saya. Jika saya dibawa ke kubangan kerbau sekalipun, saya tetap percaya kalau itu adalah kehendak Gusti Allah dengan maksud tertentu agar saya mendapatkan hikmah atas perjalanan itu".
Menyelesaikan pisang terakhir, saya bertanya, "Wak, apakah sampean tidak khawatir dengan kenaikan BBM?", dengan ringan Wak Diro menjawab, "Lha wong, saya sudah serahkan hidup saya ke Gusti Allah, kok mesti kuatir?". Sambil mengulurkan uang kembalian ke saya, ia berujar, "Saya kan cuma kawulo, apakah pantas kalau saya ikut campur tangan 'ngatur kerjaan Kanjeng Gusti?"

Hidup adalah pilihan, kita bisa memilih hidup tentram atau hidup sengsara. Ketentraman dan kesengsaraan fokus utamanya bukan terletak di banyak atau sedikitnya harta, namun lebih terletak pada “Kita mau menyerahkan hidup ke yang mengurus kehidupan atau tidak”. Itu saja pilihannya ……..
Kita itu sering aneh, selalu ngurusi yang bukan urusannya. Berani menghadapi hidup tentram, tanpa selalu merasa terhimpit aneka permasalahan!!! Bagaimana Pendapat anda ???




Jembatan Penyeberangan
Oleh Amry
Jarak antara kita dan kesuksesan kehidupan harus dipupuk dengan jembatan pengembangan, yaitu pembentangan kekuatan yang ada pada diri kita. Jembatan jangan dirusak secara sengaja oleh kemalasan, keminderan dan ketakutan untuk menyeberang.
Kemalasan, sering mempersempit dan merapuhkan pembentangan kekuatan.
Kita sering malas untuk bangun satu jam lebih cepat dari manusia pada umumnya. Padahal, kalau kita mau bangun satu jam lebih cepat dari manusia pada umumnya, banyak hal produktif yang bisa kita kerjakan. Kalau sehari satu jam lebih awal, berarti dalam sebulan ada tiga puluh jam. Waktu tiga puluh jam itu, sudah bisa untuk menyelesaikan banyak hal dalam kehidupan kita. Tentunya, masih banyak kemalasan-kemalasan lainnya …….
Keminderan, sering mempersempit dan merapuhkan pembentangan kekuatan.
Kita sering minder untuk banyak hal yang sebenarnya sangat tidak rasional. Kita minder, gara-gara badannya pendek, padahal badan yang pendek justru mengurangi resiko “kepala” terbentur benda-benda lingkungan, seperti kalau Obama presiden AS kepala terbentur pintu pesawat. Kita minder, gara-gara badan terlalu jangkung, padahal justru dengan badan jangkung itu, banyak hal yang bisa diketahui dibanding orang lain. Kita juga minder, karena pendidikannya rendah, padahal dengan pendidikan rendah yang punya kesadaran, justru lebih mudah menerima ilmu, daripada pendidikan tinggi yang gelasnya penuh, sehingga sukar diisi ilmu baru sebab merasa ilmu yang dimiliki sudah penuh. Begitu juga yang pendidikannya tinggi menjadi minder gara-gara mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai dan atasannya justru berpendidikan lebih rendah. Padahal, dengan pendidikan tinggi dan mendapat pekerjaan tidak sesuai dengan tingginya pendidikan, bisa dijadikan alat lompat pembelajaran kalau suatu ketika mempunyai anggota tim yang semakin hari semakin banyak.
Ketakutan, sering mempersempit dan merapuhkan pembentangan kekuatan
Kita sering merasa takut pada hal-hal yang sebenarnya belum tentu terjadi dan bahkan tidak pernah terjadi. Kalau misalnya terjadipun, selama disikapi dengan cara yang produktif, kejadian itu bisa dijadikan alat lompat yang semakin produktif. Orang mau menikah, takut jadi janda atau duda, pertanyaannya adalah seberapa banyak orang yang setelah menikah menjadi janda atau duda? Tentu sangat sedikit. Kalau misalnya ada yang menjadi janda atau duda, sebenarnya juga tidak apa-apa, sebab menjadi janda atau duda, menunjukkan bahwa kita sudah pernah menikah. Bagaimana kalau yang belum menikah, juga tidak perlu takut, sebab tidak akan pernah menjadi janda atau duda, gampang khan.
Sekarang juga banyak diantara kita yang takut kalau diberhentikan dari perusahaan, sedangkan anak-anak masih kecil, ada cicilan motor, rumah, mobil atau pengeluaran-pengeluaran lainnya. Padahal, juga belum banyak, sampai detik ini, yang dikeluarkan. Kalau misalnya sampai terjadi pemberhentian dari pekerjaan, mungkin Allah menghendaki kita untuk menikmati rizki dari hasil usaha sendiri, istilah kerennya adalah pengusaha he..he…
Mari memperkokoh jembatan penyeberangan kita, agar kesuksesan-kesuksesan hidup bisa kita nikmati dari detik perdetik jejak langkah kita. Tentunya kesuksesan hidup sangatlah luas, salah satunya hati kita selalu tenteram dalam menghadapi aneka persoalan kehidupan dan terjauh dari rasa malas, minder dan takut untuk melangkah.
Berani menghadapi tantangan untuk memperkokoh jembatan penyeberangan atau malah memilih tertimpa oleh jembatan yang kita buat itu!!!. Bagaimana pendapat sahabat ???

Lucunya Berputar
Ada seseorang yang sekarang punya bisnis kos-kosan sekitar 100 kamar, kalau dilihat pasif incomnya, tentu sangat luar biasa. Sebab, kalau harga perkamar diambil rata-rata 5 juta, berarti setahun 500 juta, besar khan. Tapi saya tidak membahas tentang besarnya penghasilan, namun membahas tentang beratnya beban pikiran.

Kisahnya, sangat sederhana, seseorang ini dulu merintis bisnis kos-kosan mulai dari kecil, kemudian berkembang menjadi semakin besar dan terakhir jumlah kamar kisaran 100 lebih. Ada kisah yang sangat menarik adalah, proses berkembangnya bisnis ini. Ketika bisnis kos-kosannya lancar, beliau ingin mengembangkan dengan cara membeli beberapa rumah dan tanah disekitarnya. Namun caranya kurang terpuji, yaitu dengan cara memanfaatkan isu bahwa tanah daerah situ akan digusur untuk perluasan kantor pemerintahan. Sebagai penduduk asli yang secara pendidikan juga kurang. Mereka resah dan segera menjual, kepada orang tersebut.
Sekarang bisnis kos-kosannya berkembang sangat pesat. Namun, besarnya penghasilan akhir-akhir ini, tidak menyebabkan dirinya nyaman, sebab isu yang dulu dimanfaatkan untuk mendapatkan tanah para penduduk asli, sekarang justru akan menjadi kenyataan, yaitu penduduk daerah situ akan digusur untuk perluasan kantor tertentu. Karena memang, tanah itu, agak sedikit sengketa dengan pemerintahan setempat. Dulunya, dia menakut-nakuti penduduk asli, sekarang dirinya takut kelas tinggi, sambil minta bantuan para penduduk yang dulu tanahnya dibeli, untuk demo agar tanah tidak digusur.
Ada kisah yang sangat menarik juga, ketika Barack Hussein Obama, masih menjadi senator, dia salah satu senator yang tidak memilih ketua MA John Roberts. Namun ketika Barach Hussein Obama menjadi president, justru John Roberts yang melantikknya. Bisa jadi, gara-gara kisah ini, kedua orang tersebut, menjadi terkenang dengan masa lalu, sehingga secara psikologis ada grogi terselubung, sehingga sumpah jabatannya agak terganggu dan diulang sekali lagi.
Saya kutip dari detikcom yaitu secara keseluruhan Obama mengucapkan sumpahnya demikian: "I, Barack Hussein Obama, do solemnly swear that I will execute the office of president of the United States faithfully, and will to the best of my ability, preserve, protect, and defend the constitution of the United States. "So help me God."
Padahal sesuai Konstitusi AS, sumpah tersebut harusnya berbunyi: "I, Barack Hussein Obama, do solemnly swear that I will faithfully execute the office of president of the United States, and will to the best of my ability, preserve, protect, and defend the constitution of the United States. "So help me God."
Kesalahan terjadi ketika Roberts harusnya menyebutkan kalimat: "... that I will faithfully execute the office of president of the United States." Namun Roberts salah mengucapkan urutan kata-kata tersebut. Dia malah menyebutkan, ".... that I will execute the office of president of the United States faithfully." Hal itu membuat Obama bingung. Obama sepertinya menyadari ada yang salah hingga dia mendadak berhenti pada kata "execute."
Hidup adalah penuh perputaran lucu yang bisa diambil pelajaran bagi kita semua. Sehingga kita akan menjadi orang-orang yang siap dalam menghadapi setiap perputaran kehidupan dengan penuh keberkahan.
Berani menghadapi perputaran hidup dengan pondasi kebenaran !!! Bagaimana pendapat sahabat ???


Empat Kunci :
Tentunya, banyak kunci untuk menghadapi hidup. Kesempatan ini, akan merangkum garis besar kunci-kunci dalam menghadapi hidup yaitu (1) Percaya kepada kemampuan diri; (2) Percaya kepada kemampuan teman; (3) Percaya kepada kemampuan pesaing; dan (4) Percaya kepada kemampuan Allah.
Pertama, Percaya kepada Kemampuan Diri
Orang-orang yang tidak percaya kepada kemapuan diri, biasanya tidak punya motivasi berprestasi. Ciri orang yang punya motivasi berprestasi adalah seperti kereta dorong yang sudah beranjak sebelum didorong. Jadi kalau kita hidupnya masih menunggu didorong atau dimotivasi oleh sistem lingkungan, berarti percaya kepada kemampuan diri masih rendah.
Kedua, Percaya kepada Kemampuan Teman
Hidup ini tidak hanya perlu kepandaian diri dan percaya kepada kemampuan diri. Sebab kalau hanya percaya kepada kemampuan diri tanpa percaya kepada kemampuan teman, hidup kita akan capek sendiri. Sebab semua pekerjaan, akan dikerjakan sendiri dan tidak percaya perlunya pendelegasian. Penyakit ini, biasanya menimpa pada orang-orang yang sangat pandai dan perfek. Dirinya tidak percaya kepada kememapuan temennya, bekerja sendiri, capek sendiri. Bahkan potensinya akan mati, terkubur oleh prilakunya sendiri.
Ketiga, Percaya kepada Kemampuan Pesaing.
Ada kisah yang sangat menarik, ketika Cina membuat benteng yang bersejarah itu, salah satu faktornya adalah agar tidak mendapat serangan dari luar dan agar ilmu yang ada didalam tidak diketahui oleh orang-orang luar. Kemudian, terjadi sebuah peperangan yang terkenal dengan nama “Perang candu”, setelah perang candu, baru sadar bahwa dunia luar rupanya jauh lebih maju. Akhirnya sadar, dan sekarang mempercepat kemajuannya, menyebabkan AS dan negara-negara lain mulai grogi menghadapi kemajuan Cina yang sangat pesat. Ini juga menjangkiti, seseorang yang punya keahlian tertentu dari jurusan ketika kuliah. Kemudian menutup diri dan akhirnya baru sadar bahwa keahliannya ketika kuliah bisa diserobot oleh keahlian orang-orang yang tidak pernah kuliah dijurusan itu. Contoh sederhana, temen-temen yang kuliah jurusan komputer, bisa saja diserobot oleh orang yang kuliah jurusan bahasa jawa, bahasa sunda, seni tari atau apapun yang sangat tidak nyambung, tapi punya kemampuan konpensasi positif mendalami ilmu komputer.
Keempat, Percaya kepada Kemampuan Allah
Salah satu kunci dari percaya kepada kemampuan Allah adalah peringatan dari Allah:”Mungkin engkau menyukai sesuatu namun tidak baik menurut Allah dan mungkin engkau tidak menyukai sesuatu namun baik menurut Allah.” Jadi intinya bahwa kita harus punya keinginan yang sangat bagus, tapi kita juga harus punya kesadaran bahwa keinginan Allah untuk kita jauh lebih bagus. Hidup sesuai dengan rencana Allah jauh lebih bagus.
Mari menghadapi krisis ekonomi dan krisis iman ini, kita harus bersungguh-sungguh mengoptimalkan kedahsatan percaya kepada kemampuan diri, teman, pesaing dan terakhir Allah. Tanpa itu, rasanya kita, akan hidup berputar-putar dibelantara tanpa ujung prestasi, sampai mati.